Ditengah kondisi kemajuan peradaban yang terus terjadi, banyak kemunduran-kemunduran dalam pelestarian-pelestarian nilai budaya. Seperti pada umumnya setiap daerah memiliki khazanah budaya baik makanan maupun ragam kriya yang sudah ada secara turun temurun. Sama halnya terkait olahan kuliner budaya melayu di Kota Tanjungpinang, dalam adat perkawinan melayu terdapat jenis-jenis kue khas yang wajib disuguhkan pada momen sakral tersebut. Namun seiring waktu, perlahan-lahan proses tersebut luntur dalam pelaksanaannya. Hal tersebut yang melatar belakangangi Pemerintah Kota Tanjungpinang, melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian menyelenggarakan Pelatihan Olahan Kue Khas Adat Perkawinan Melayu. Pelatihan yang diselenggarakan pada tanggal 9 s.d 10 April 2021 di SMK N 2 Tanjungpinang ini diikuti oleh 30 orang peserta.

 

Atmadinata, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian menyampaikan dalam sambutannya bahwa diharapkan melalui pelatihan ini, peserta dapat menambah keterampilan dan menjadi peluang usaha baru mengembangkan kue-kue tradisional melayu yang khusus disuguhkan pada momen perkawinan adat melayu. Selain berupaya menambah keterampilan bagi para peserta yang pada akhirnya bisa menjadi peluang usaha, namun dengan pelatihan ini semoga bisa menciptkan kader-kader baru pelestari kue-kue khas adat perkawinan melayu ini, lanjutnya.

 

Sebelum para peserta diberikan ilmu praktek kue-kue tersebut, sebelumnya para peserta dibekali ilmu teori terkait dasar-dasar dan nilai-nilai filosofi dari setiap jenis kue melayu yang disuguhkan kepada pengantian pria pada adat perkawinan yang disampaikan oleh Dato’ Amiripana, perwakilan dari Lembaga Adat Melayu Kota Tanjungpinang.

 

Selama 2 (dua) hari menjalankan materi praktek, peserta diberikan keterampilan cara memproduksi kue anta kesuma, kue rasidah dan kue talam belauk. Ibu Fatimah, selaku narasumber yang mengajarkan ilmu praktek secara langsung, merasa sangat antusias atas semangat para peserta mau belajar memproduksi kue-kue yang memang sudah lama dan jarang kita lihat dipasaran. Harapannya, ilmu yang disampaikan dengan waktu yang cukup singkat mampu diserap oleh seluruh peserta dan dapat dipraktekkan setelah pelatihan ini berakhir serta memberikan kemanfaatan bagi para peserta kedepan.