Kepastian Takaran Timbangan merupakan sesuatu yang mutlak harus diterima oleh semua konsumen dalam transaksi jual beli. Mulai berbelanja di pasar tradisional hingga toko modern, dipastikan barang-barang yang diperjual belikan ditimbang terlebih dahulu, bahkan membeli emas dan membeli bahan pakaian semua ditakar menggunakan alat ukur.

Sebagai program kerja rutin, yang selalu dilakukan setiap tahunnya, Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Tanjungpinang melalui UPTD Metrologi Legal kembali menggelar kegiatan Sidang Tera Ulang (STU) di area Pasar Bintan Centre (5/4/2021). STU menyasar ke semua pedagang di Pasar Bincen yang menggunakan alat UTTP (ukur, takar, timbang dan perlengkapannya).

Joko Susilo, kepala UPTD Metrologi Legal, menyampaikan bahwa kegiatan STU bertujuan memberikan kepastian hukum akan volume/ nominal takaran dalam hal jual beli, memberikan jaminan kebenaran timbangan para pedagang serta melindungi konsumen dalam hal takaran setiap barang yang dibelinya. Lanjut Joko, kegiatan STU ini dilakukan selama 4 hari, mulai tanggal 5 s.d 8 April 2021. Untuk menghindari terjadinya kerumunan pedagang yang akan melakukan tera ulang timbangannya, pihaknya mengatur strategi dengan memberikan arahan berupa leaflet yang didalamnya mencantumkan undangan, ketentuan dan peraturan terkait tera itu sendiri serta jadwal waktu pelaksanaan STU itu sendiri.

Adapun, sebagai upaya persuasif bagi pedagang yang masih enggan melakukan tera timbangannya, petugas dari Satpol PP, Pengawas Kemetrologian dan perwakilan dari pihak kelurahan setempat akan menyisir ke pedagang-pedagang yang masih belum melakukan tera atau tera ulang. Dalam kesempatan lain, salah seorang petugas UPTD, Kasih Kurniawan, menuturkan bahwa, prosedur pelaksanaan STU ini yakni pedagang terlebih dahulu melakukan pendaftaran dimeja pendaftaran, kemudian timbangan yang sudah dibawa akan langsung dicek kepastian takarannya, jika sudah sesuai maka, dilanjutkan ke meja segel atau diberikan pembubuhan cap tanda sah tera yang berlaku. Namun jika timbangan mengalami kerusakan, maka diarahkan untuk diperbaiki ke reparatir yang juga membuka pelayanan di lokasi STU. Jika sudah sesuai, selanjutnya dicek kembali dan diberikan tanda sah tera. Lanjutnya, pedagang membayar jasa retribusi sesuai dengan Perda yang berlaku mengenai Retribusi Jasa Umum.